PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP
INVESTIGATION DALAM PEMBELAJARAN IPS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DI
SEKOLAH DASAR
Hermawan Putra
Nusantara
ABSTRAK
Fokus
permasalahn dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah
aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan model cooperative learning tipe group
investigation? 2) bagaimanakah hasil belajar IPS siswa setelah melalui
pembelajaran dengan menerapkan model cooperative
learning tipe group investigation?. Maka diterpakanlah suatu model
pembelajaran yang bertumpu pada aktivitas siswa yang dapat menentukan
keberhasilan aktivitas pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa,
yaitu dengan menerapkan penerapan model cooperative
learning tipe group investigation. tujuan penelitian ini yaitu ingin mengetahui
peningkatan aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS
dengan menerapkan model cooperative
learning tipe group investigation. Jenis penelitian yang diginakan dalam
penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari tiga
siklus masing-masing siklus meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan
tindakan, observasi dan refleksi. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan
tes hasil belajar. Dari rangkaian kegiatan penelitian yang dilaksanakan dalam
pembelajaran IPS dengan penerapan model cooperative
learning tipe group investigation mengalami peningkatan. Sebelum melakukan
tindakan (pra siklus) nilai rata-rata kelas 56,42 yang masih jauh dibatas nilai
lulus atau nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75 dan setelah
penerapan model cooperative learning tipe
group investigation pada siklus satu dieroleh nilai rata-rata kelas 62,14
kemudian dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus kedua, hasil pembelajaran
naik menjadi 73,21 dan pada siklus ketiga nilai yang diperoleh sudah diatas
batas rata-rata kelas yaitu 80,35. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa
penerapan model cooperative learning tipe
group investigation dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses
pembelajaran. Ini ditunjukan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang
sangat signifikan.
Kata kunci: Model cooperative learning tipe group
investigation, hasil belajar siswa, dan pembelajaran IPS di SD
Pendahuluan
Pendidikan merupakan hal terpenting
dalam kehidupan manusia, karena melalui pendidikan dapat menciptakan manusia
yang berpotensi kreatip dan memiliki ide cemerlang sebagai bekal untuk
memperoleh masa depan yang lebih baik.
Pendidikan di Indonesia mengalami
permasalahan yang kompleks. Hal ini terjadi kerena tuntutan masyarakat terhadap
kualitas output pendidikan semakin meningkat serta dinamika ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) terus berjalan. Sumber daya manusia yang ada tidak lepas
dari kualitas pendidian itu sendiri. Sehingga masalah ini dapat diatasi dengan
mempertinggi kualitas pendidikan, sebab salah satu fuungsi utama pendidikan
adalah mengembangkan potensi manusia sebagai siswa secara utuh dan optimal
sebgai strategi yang sistematis dan terarah.
Salah satu langkah yang dapat ditempuh
untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan mengembangkan berbagai pendekatan
pembelajaran. Sagala (2012:179) menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran
(approach to learning) termasuk bagian dari factor yang menentukan tingkat
keberhasilan belajar siswa. Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang
ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional. Pada
prinsipnya, pendekatan pembelajaran diimplementasikan guru untuk menelaskan
materi pembelajaran dari bagian-bagian yang satu dengan bagian lainnya dengan
berorientasi pada pengalaman-pengalaman yang dimiliki siswauntuk mempelajari
konsep dan teori baru dalam suatu bidang ilmu. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD yang mengkaji
seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan
masalah sosial. Melalui pembelajaran IPS, siswa diarahkan untuk menjadi warga
yang demokratis, bertanggungjawab, dan menjadi warga dunia yang cinta damai.
Untuk menumbuhkan sukap aktif, kreatif,
dan inovatif dari siswa tidak lah mudah. Fakta yang terjadi adalah guru
dianggap sebagai sumber belajar yang paling benar. Proses pembelajaran yang
terjadi adalah memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru. Akibatnya,
proses belajar mengajar cenderung membosankan dan menjadikan siswa malas
belajar. Sikap anak didik yang pasif tersebut ternyata tidak hanaya terjadi
pada mata pelajaran tertentu saja tetapi pada hampir semua mata pelajaran
termasuk IPS. Berdasarkan obesrvasi dilapangan yaitu di SD Karya Mandiri Kelas
IV terdapat beberapa masalah yang muncul, antara lain: 1) Keaktifan siswa dalam
mengikuti pembelajaran masih belum nampak, 2) Para siswa jarang mengajukan
pertanyaan , walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal
yang belum jelas, atau kurang paham, 3) para siswa dalam mengemukakan pendapat
masih kurang Nampak hal ini mengambarkan efektivitas belajar mengajar dalam
kelas masih rendah dalam pengajaran IPS diharapkan siswa benar-benar aktif.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu dicarika formula pembelajaran yang
tepat sehingga dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran IPS.
Peneliti mencoba menerapkan model cooperative
learning tipe group investigation, model cooperative learning tipe group investigation ini merupakan
strategi pengajaran yang berhasil didalam mebentuk kelompok kecil yang
masing-masing kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa yang memiliki
kemampuan yang berbeda sehingga mereka bias bekerja sama dan saling membantu sesame
lainnya. Masing-masing anggota kelompoknya mempunyai tanggungjawab tidak hanya
tentang apa yang diajarkan oleh guru tetapi juga membantu teman-teman
sekelompoknya dalam belajar, sehingga bias menciptakan suasana keberhasilan.
Pendekatan model cooperative learning
tipe group investigation akan mengiring siswa dalam memiliki motivasi yang
tinggi. Dengan tingginya motivasi yang dimiliki siswa diharapkan hasil belajar
yang dicapai oleh siswapun meningkat.
Oleh karena itu penulis akan mengadakan
penelitian dengan judul “Penerapan Model Cooperative
Learning Tipe Group Investigation Dalam Pembelajaran Ips Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa Di Sekolah Dasar”
Kajian Teoritik
Pengertiang
model cooperative learning tipe group
investigation
Model Cooperative Learning
“Cooperative learning adalah “Model pembelajaran yang secara sadar
dan sistematis mengembangkan interaksi yang lebih silih asah, silih asih, dan
silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup didalam masyarakat
nyata” Abdurahman dan Bintoro,
(2000).
Falsafah yang mendasari model
cooperative learning dalam pendidikan
adalah “falsafah homo homini socios.
Berlawanan dengan teori Darwin, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah
makhluk sosial. “Tanpa kerja sama atau kooperatif, tidak akan ada individu,
keluarga, organisasi, atau sekolah” (Lee, 1999: 28).
Dalam konteks di atas, Johnson dan Smith (1991)
mengatakan bahwa “tidak semua kerja kelompok bisa dikatakan cooperative learning. Untuk mencapai
hasil yang optimal, lima unsur model cooperative
learning yang harus diaplikasikan , yaitu: (1) saling ketergantungan
positif, (2) tanggungjawab perseorangan, (3)tatap muka, (4) komunikasi antar
anggota, dan (5) evaluasi proses kelompok.”
Selanjutnya, Anam (2003)
mempertegas bahwa “essensi cooperative
learning merupakan tanggungjawab individu sekaligus kelompok sehingga dalam
diri siswa terbentuk sikap kebergantungan positif yang menjadikan kerja
kelompok berjalan optimal.” Keadaan ini mendorong siswa dalam kelompoknya
belajar, bekerja, dan bertanggungjawab dengan sungguh-sungguh sampai selesai
tugas-tugas individu dan kelompok.
Beberapa alasan penggunaan
belajar bekerjasama atau cooperative dalam
pembelajaran menurut Slavin yang dikutip Mustaji (2003: 43) yaitu: (1)untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam memperbaiki hubungan dalam satu grup,
(2)mengatasi rintangan sekelas secara akademik, (3)meningkatkan harga diri,
(4)menumbuhkan kesadaran bahwa siswa perlu belajar dengan berfikir,
(5)memecahkan masalah dan belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan
yang dimilikinya, (6)mendorong terbentuknya struktur kognitif pada diri siswa
dan menyumbangakan pengetahuan kepada angota-anggotanya dalam kelompoknya.
Pada bagian lain Slavin dalam
Mustani (darmawati 2008:44) mengidentifikasi beberapa hasil penelitian tentang
aplikasi cooperative learning dalam
pembelajaran. Beberapa temuan penelitian menunjukan bahwa:
1.
Model
pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan siswa secara signifikan;
2.
Siswa
yang bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tujuan kelompok, mereka menunjukan
kemurahan hati mengerjakan apapun yang diperlikan untuk keberhasilan kelompok.
3.
Siswa
dalam kelas belajar bekerja sama atau cooperative
merasakan bahwa teman-teman sekelas menginginkan mereka belajar bersama.
4.
Siswa
dalam kelas belajar bekerjasama atau cooperative
diuntungkan dalam peningkatan status sosial mereka dikelas.
Sementara itu, Arends
(Darmawati 2008:20) mengemukakan belajar bekerja sama atau cooperative dapat saling menguntungkan antara siswa yang
berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi yang bekerjasam dalam
tugas-tugas akademik. Siswa yang berkemampuan lebih tinggi dapat menjadi tutor
bagi siswa yang berkemampuan rendah. Dalam proses ini, siswa berkemampuan lebih
tinggi secara akademik mendapat keuntungan karena memberi bantuan sebagai tutor
pada topik tertentu memerlukan pemikiran lebih mendalam.
Lie (2000:9) berpendapat bahwa “cooperative learning bertujuan untuk
menghasilkan manusia yang bisa berdamai dan bekerja sama dengan sesamanya.
Selain itu, suasana yang positif timbul dari metode cooperative learning bisa memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mencintai pekerjaan dan sekolah. Dalam kegiatan-kegiatan yang menyenangkan ini,
siswa merasa lebih terdorong untuk belajar dan berfikir”. Dapat disimpulkan
bahwa esensi dari cooperative learning
terletak pada tanggungjawab individu, sekaligus kelompok, sehingga dalam diri
setiap siswa tumbuh dan berkembang sikap-sikap saling ketergantungan (independent) secara positif. Dengan
demikian menjadikan belajar melalui kerjasama dalam kelompok akan berjalan
seoptimal mungkin, kondisi ini dapat mendorong siswa untuk belajar, bekerja,
dan bertanggungjawab sampai tujuan dapat terwujudkan.
Tujuan Model Pembelajaran
Kooperatif
Tujuan model pembelajaran
kooperatif menurut Widiyantini` (Darmawati 2008:4) adalah “hasil belajar
akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari
temannya serta pengembangan keterampilan sosial”. Johnson & Johnson dalam
Trianto, (Darmawati 2008:57) menyatakan bahwa “ tujuan pokok belajar kooperatif
adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan
pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Louisell dan Deescamps
dalam Trianti, (Darmawati 2008:57) juga menambahkan, karena siswa bekerja dalam
suatu tim, maka dengan sendirinya dapat memperbaiki hubungan diantara para
siswa dari latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan
keterampilan-keterampilan proses dan pemecahan masalah. Jadi inti dari tujuan
pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan partisipasi siswa,
memfasilitasi siswa dan memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan
belajar bersama-sama siswa lainnya.
Prinsip Dasar Model
Pembelajaran Kooperatif
Menurut Nur dalam
Widiyantini, (Darmawati 2008:4), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif
sebagai berikut : a. Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas segala
sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya dan berfikir bahwa semua anggota
kelompok memiliki tujuan yang sama. b. Dalam kelompok terdapat pembagian tugas
secara merata dan dilakukan evaluasi setelahnya. c. Saling membagi kepemimpinan
antar anggota kelompok untuk belajar bersama selama pembelajaran. d. Setiap
nggota kelompok bertanggung jawab atas semua pekerjaan kelompok.
Ciri-ciri model pembelajaran
kooperatif menurut Nur (dalam Widiyantini, 2006:4) sebagai berikut : a. Siswa
dalam kelomopok bekerjasama menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi
dasar yang akan dicapai. b. Kelompok dibentuk secara heterogen. c. Penghargaan
lebih diberikan kepada kelompok bukan kepada individu.
Pada model pembelajaran
kooperatif memang ditonjolkan pada diskusi dan kerjasama dalam kelompok.
Kelompok dibentuk secara heterogen sehingga siswa dapat berkomunikasi, saling
berbagi ilmu, saling menyampaikan pendapat, dan saling menghargai pendapat
teman sekolompoknya.
Berdasarkan ciri belajar
kooperatif di atas bahwa dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya
kemungkinan untuk menciptkan kondisi yang mengarah pada akibat pencapaian
positif melalui kerja sama antar siswa dengan metode-metode pengajaran langsung
siswa terstruktur (khususnya berpasangan) atau dengan mengajarkan mereka
strategi-strategi pemahaman bacaan.
Adanya kemungkinan bahwa
strategi pembelajaran efektif yang dapat diajarkan langsung kepada kelompok
kooperatif sangat sesuai dengan kerangka
teoritis menurut Slavin (2009: 93) yang digambarkan dalam gambar 2.3 berikut :
Pengertian Group Investigation
Model Group Investigation seringkali disebut sebagai metode pembelajaran
kooperatif yang paling kompleks. Hal ini disebabkan oleh metode ini memadukan
beberapa landasan pemikiran, yaitu berdasarkan pendangan konstruktivistik, democratic teaching, dan kelompok
belajar kooperatif. Berdasarkan pandangan konstruktivistik, proses pembelajaran dengan model group investigation memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada
siswa untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam proses pembelajaran mulai
dari perencanaan sampai cara mempelajari suatu
topik melalui investigasi. “Democratic
teaching adalah proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai
demokrasi, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menjunjung keadilan,
menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keberagaman peserta didik”
Budimansyah, (2007).
Group investigation adalah kelompok kecil untuk
menuntun dan mendorong siswa dalam keterlibatan belajar. Metode ini menuntut
siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam
keterampilan proses kelompok (group
process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah sumbangan ide dari tiap anggota
serta pembelajaran kelompok yang notabene lebih mengasah kemampuan intelektual
siswa dibandingkan belajar secara individual. Aggen & Kauchak (maimunah,
2005) mengemukakan “group investigation
adalah strategi belajar kooperatif yang menempatkan siswa kedalam kelompok
untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik”. Dari pernyataan tersebut
dapat disimpulkan bahwa metode group
investigation mempunyai fokus utama untuk melakukan investigasi terhadap
suatu topik atau objek khusus.
Tujuan Model Pembelajaran
Group Investigation
Metode group investigation paling sedikit memiliki tiga tujuan yang saling
terkait:
a.
Group
investigasi membantu siswa untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik secara sistematis dan analitik. Hal ini
mempunyai implikisi yang positif terhadap pengembanagan keterampilan penemuan
dan membantu mencapai tujuan.
b.
Pemahaman
secara mendalam terhadap suatu topik yang dilakukan melaui investigasi.
c.
Group
investigasi melatih siswa untuk bekerja secara kooperatif dalam memecahkan
suatu masalah. Dengan adanya kegiatan tersebut, siswa dibekali keterampilan
hidup (life skill) yang berharga
dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi guru menerapkan model pembelajaran Group
Investigation dapat mencapai tiga hal, yaitu dapat belajar dengan penemuan,
belajar isi dan belajar untuk bekerja secara kooperatif.
Tahapan Kegiatan Pendekatan Group Investigation (kelompok
investigasi)
Tahapan-tahapan kegiatan yang
dilakukan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan group
investigation seperti yang dijelaskan oleh Slavin (2009: 220-226) adalah
sebagai berikut:
a.
Mengidentifikasi
topic dan mengatur murid kedalam kelompok
Tahap ini secara khusus ditunjukan untuk masalah
pengaturan. Guru mempresentasikan serangkaian masalah atau isu dan para siswa
mengidentifikasikan dan memilih berbagai subtopic untuk dipelajari, berdasarkan
pada ketertarikan dan latar belakang mereka.
b.
Merencanakan
investigasi didalam kelompok
Setelah mengikuti kelompok-kelompok mereka
masing-masing, para siswa mengalihkan perhatian mereka kepada subtopik yang
mereka pilih. Pada tahap ini anggota kelompok menentukan aspek dari subtopik
yang masinmasing akan mereka investigasi. Sebagai akibatnya, setiap kelompok
harus memformulasikan sebuah masalah yang dapat diteliti, memutuskan bagaimana
melaksanakannya, dan menentukan sumber-sumber mana yang akan dibutuhkan untuk
melakukan invstigasi tersebut.
c.
Melaksanakan
Investigasi
Dalam tahap ini tiap kelompok
melaksanakan rencana yang telah diformulasikan sebelumnya.
d.
Menyiapkan
Laporan Akhir
Dalam tahap ini merupakan transisi dari tahap
pengumpulan data dan klarifikasi ke tahap dimana kelompok-kelompok yang ada
melaporkan hasil investigasi mereka kepada seluruh kelas.
e.
Mempersiapkan
Laporan Akhir
Masing-masing kelompok mempersiapkan diri untuk
mempersentasikan laporan akhir mereka kepada kelas. Pada tahap ini, mereka
berkumpul kembali kepa posisi kelas sebagai suatu keseluruhan
f.
Evaluasi
Pencapaian
Dalam group
investigation para guru harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi siswa
mengenai subjek yang dipelajari bagaimana mereka menginvestigasikan aspek-aspek
tertentu dari subjek, bagaiman mereka mengaplikasikan pengetahuan mereka
terhadap solusi dari masalah-masalah baru, bagaimana mereka menggunakan
kesimpulan dari apa yang mereka pelajari dalam mendiskusikan pertanyaan yang
membutuhkan analisis dan penilaian, dan bagaimana mereka sampai pada kesimpulan
dari serangkaian data.
Metode Penelitian Tindakan
Kelas yang dilaksanakan di SDN Karya Mandiri Kecamatan Tanjungsian Kabupaten
Subang ini bersifat perbaikan dalam pembalajaran. Perbaikan pembelajaran
dimaksud adalah perbaikan pembelajaran
IPS. Karena besifat perbaikan, tentu saja pelaksanaan pembelajarannya tidak hanya
cukup satu kali saja melainkan diperlukan berulang-ulang dari siklus yang satu
ke siklus yang lainnya.
Secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim
dilalui, yaitu (1)perencanaan, (2)pelaksanaan, (3)pengamatan, dan (4) refleksi.
Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut:
![]() |
|||||||
|
|
||||||
![]() |
Siklus I
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
Siklus II![]() |
|||
|
|||
Gambar 3.1 : Alur Pelaksanaan Tindakan dalam PTK
(Arikunto, 2008:74)
Setiap langkah terdiri atas
empat tahap (satu siklus), yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan
refleksi. Dari siklus pertama dilanjutkan ke siklus kedua, ketiga dan
seterusnya sehingga pembelajaran tersebut dapat optimal.
Prosedur penelitian yang dilaksanakan dalam setiap siklus
adalah sebagai berikut:
Tahap 1:
menyusun rancangan tindakan (planning)
Pada siklus pertama,
perencanaan tindakan (planning)
dikembangkan berdasarkan hasil observasi awal. Dari masalah yang ada dan cara
pemecahannya yang telah ditetapkan, dibuat perencanaan kegiatan belajar
mengajarnya (KBM). Perencanaan ini persis dengan KBM yang dibuat oleh guru
sehari-hari, termasuk penyiapan media, dan alat-alat pemantauan perkembangan
pengajaran seperti lembar obervasi, tes, catatan harian dan lain-lain.
Pada tahap perencanaan ini,
peneliti menyusun langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Mengadakan
koordinasi dengan guru-guru dan kepala sekolah SDN Karya Mandiri tentang
masalah yang akan dijadikan focus penelitian.
b.
Menyusun
persiapan pembelajaran.
c.
Menyiapkan
alat/media/model pembelajaran.
d.
Menentukan
instrument yang akan digunakan dalam penelitian.
Tahap 2:
Pelaksanaan Tindakan (acting)
Tahap ini adalah pelaksanaan
KBM yang telah direncanakan. Bersamaan dengan ini dilakukan juga tahap
observasi/pemantauan. Pada tahap ini kegiatan yang akan dilakukan peneliti
sekaligus praktisi yaitu melaksanakan tindakan sesuai dengan langkah-langkah
yang telah direncanakan. Pelaksanaan penelitian terintegrasi kedalam proses
belajar mengajar dan peningkatan kualitas hasil pembelajaran yang diusahakan
pemanfaatannya oleh peneliti dan peserta didik.
Tahap 3:
Observasi/pemantauan (Observation)
Dalam tahap observasi, dilakukan beberapa kegiatan
seperti pengumpulan data-data yang diperlukan. Untuk mendapat data ini,
diperlukan instrument dan prosedur pengumpulan data. Dalam tahap ini juga
dilakukan analisis terhadap data, dan interpretasinya. Tahap ini berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan
tindakan (action) dan pada akhir tindakan. Data yang diambil selama
pelaksanaan tindakan misalnya observasi prilaku siswa. Pada akhir tindakan
dapat dilakukan tes maupun wawancara.
Pada tahap observasi ini, penelitian secara lengsung
dalam pembelajaran dengan menggunakan pedoman observasi (instrument penelitian)
yang telah disiapkan sebelumnya, menghimpun data dan mengumpulkan bahan
pertimbangan yang telah dilakukan untuk menyusun rencana tindakan selanjutnya
sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Tahap 5:
Refleksi (Reflection) Menurut
Zuber-Skerrit (Muhadi, 2011: 70),
Tahap ini terdiri atas refleksi kritis dan
refleksi diri. Refleksi kritis adalah pemahaman secara mendalam atas temuan
siklus tersebut, dan refleksi diri adalah mengkaji kelebihan dan kekurangan
yang terjadi selama siklus berlangsung. Dengan demikian, tahap ini berisi
kegiataan pemaknaan hasil analisis, pembahasan, penyimpulan, dan identifikasi
tindak lanjut. Hasil identifikasi tindak lanjut selanjutnya menjadi dasar dalam
menyusun tahap perencanaan (planning)
siklus berikutnya.
Pembahasan
Berdasarkan hasil belajar
siswa kelas IV SD Karya Mandiri sebelum menerapakan model cooperative learning tipe group investigation dalam proses
pembelajaran kurang memuaskan. Hal ini dapat terlihat dari kemampuan rata-rata
kelas yang mencapai 54,52. Jumlah siswa masih dibawah KKM sebanyak 28 orang.
Dalam penelitian
yang dilaksakan dibatasi hanya dalam tiga siklus karena perolehan nilai pada
siklus kedua masih belum memuaskan.
berdasarkan
hasol observasi yang dilaksanakan pada kondisi awal pembelajaran diperoleh data
hasil belajar masih kurang memuaskan dengan nilai rata-rata 56,42 dari 28 orang
siswa hal tersebut menjadi bahan refleksi guru untuk memaksimalkan hasil
belajar siswa. Gambaran ini menunjukan bahwa kegiatan pembelajaran IPS tidak
member pengalaman langsung terhadap siswa akan materi IPS khususny pokok
bahasan koperasi. Tindakan awal yang dilakukan peneliti untuk meningkatakan
mutu pembalajaran IPS dikelas V SD Karya Mandiri adalah dengan cara melakukan
evaluasi terhadap aktivitas siswa daalm pembelajaran. Berdasarkan gambaran pada
kondisi awal pembelajaran kegiatan pembelajaran lebih didominasi oleh guru
sehingga pada proses pembelajaran berlangsung kurang terjalin interaksi yang
komunikatif antara guru dan siswanya. Peneliti mendapat masukan dari teman
sejawat supaya siswa dapat terlibat lebih aktif lagi pada saat proses
pembelajaran. setelah melakukan diskusi dengan teman sejawat, peneliti
mengajukan untuk menerapkan model cooperative
learning tipe group investigation, dalam melaksanakan proses pembelajaran
sebagai upaya menyelesaikan masalah. Proses pembelajaran yang diharapkan dengan
menerapkan model cooperative learning
tipe group investigation adalah usaha pembelajaran yang berusaha
meningkatkan keterlibatan siswa dan memberikan pengalaman langsung kepada siswa
sehingga pembelajaran lebih bermanfaat. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas
peningkatan aktivitas dalam proses pembelajaran dan hasil belajar IPA
Grafik Presentase Perolehan Nilai
Dari analisis data, sebelum
menggunakan pendekatan model cooperative
learning tipe group investigation dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD Karya
Mandiri nilai rata-rata adalah 56,42. Setalah mengunakan model cooperative learning tipe group investigation
yaitu: pada tindakan pertama nilai
rata-rata menjadi 62,14 pada tindakan kedua nilai rata-ratanya 73,21 dan pada
tindakan ketiga nilai rata-ratanya 80,35 untuk mendapatkan gambaran lebih jelas
peningkatan hasil belajar siswa sebelum tindakan, tindakan pertama, tindakan
kedua dan tindakan ketiga dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
![]() |
![]() |
Grafik 4.7 : Grafik
Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa
Keseimpulan
Setelah melakukan penelitian pada proses pembelajaran IPS
dengan menggunakan penerapan model cooperative
learning tipe group investigation di Kelas IV SD Karya
Mandiri dilaksanakan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Aktivitas siswa pada saat
menerapkan model cooperative learning tipe group
investigation semakin aktif terutama yang melibatkan
intelektual, emosional dan sosial ini ditunjukan dengan adanya kegiatan belajar
dalam kelompok yaitu untuk menumbuhkan kemampuan berfikir, bekerja dan bersikap
ilmiah serta mengkomunikasikannya.
2.
Hasil pembelajaran dengan menggunakan
penerapan model cooperative learning tipe
group investigation mengalami perbaikan yang signifikan. Sebelum
menggunakan penerapan model cooperative
learning tipe group investigation nilai rata-rata sebelum
menggunakan pendekatan model cooperative
learning tipe group investigation dalam pembelajaran IPS
di kelas IV SD Karya Mandiri nilai rata-rata adalah 56,42. Setalah mengunakan
model cooperative learning tipe group
investigation yaitu: pada tindakan
pertama nilai rata-rata menjadi 62,14 pada tindakan kedua nilai rata-ratanya
73,21 dan pada tindakan ketiga nilai rata-ratanya 80,35.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT.
Bumi Aksara
Arikunto, Suharsimi. (2012). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.
Jakarta: PT Bumi aksara
Aqib, Zaenal. (2009). Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SD,
SLB, TK. Bandung: CV. Yrama Widia
Bahri, Syaiful. (2010). Strategi belajar Mengajar. Jakarta: PT
Rineka Cipta
E. Slavin, Robert. (2008). Cooperative Learning Teori, Riset dan
Praktik. Bandung: Penerbit Nusa Media
Lie, Anita. (2002). Cooperative Learning Mempraktekan
Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Grasindo
Khoiru, Iif. (2011). Metode Pembelajaran IPS Terpadu “Analisis
Kritis Tentang Metode, Strategi, Evaluasi, dan Media Pembelajaran Bidang Studi
Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Antropologi, dan Isu Pembelajaran IPS
terpadu”. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya
Muhadi. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta:
Shira Media
Rakhmat, Cece. (2006). Psikologi Pendidikan. Bandung: UPI PRESS
Suprijono, Agus. (2009). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi
Paikem. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Sadulloh, Uyoh. (2011). PEDAGOGIK (Ilmu Mendidik). Bandung:
Alfabeta
Suhaedah. (2012). Sosiologi Antropologi Pendidikan.
Subang: Royyan Press.
Wahyudin, Uyu. (2006). Evaluasi Pembelajaran SD. Bandung: UPI
PRESS
www.google.com (2013)






