Selasa, 16 Juli 2013

contoh abstrak (SKRIPSI)



PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION DALAM PEMBELAJARAN IPS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DI SEKOLAH DASAR


Hermawan Putra Nusantara
ABSTRAK
Fokus permasalahn dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan model cooperative learning tipe group investigation? 2) bagaimanakah hasil belajar IPS siswa setelah melalui pembelajaran dengan menerapkan model cooperative learning tipe group investigation?. Maka diterpakanlah suatu model pembelajaran yang bertumpu pada aktivitas siswa yang dapat menentukan keberhasilan aktivitas pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu dengan menerapkan penerapan model cooperative learning tipe group investigation.  tujuan penelitian ini yaitu ingin mengetahui peningkatan aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS dengan menerapkan model cooperative learning tipe group investigation. Jenis penelitian yang diginakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari tiga siklus masing-masing siklus meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan tes hasil belajar. Dari rangkaian kegiatan penelitian yang dilaksanakan dalam pembelajaran IPS dengan penerapan model cooperative learning tipe group investigation mengalami peningkatan. Sebelum melakukan tindakan (pra siklus) nilai rata-rata kelas 56,42 yang masih jauh dibatas nilai lulus atau nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75 dan setelah penerapan model cooperative learning tipe group investigation pada siklus satu dieroleh nilai rata-rata kelas 62,14 kemudian dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus kedua, hasil pembelajaran naik menjadi 73,21 dan pada siklus ketiga nilai yang diperoleh sudah diatas batas rata-rata kelas yaitu 80,35. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa penerapan model cooperative learning tipe group investigation dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Ini ditunjukan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat signifikan.

Kata kunci: Model cooperative learning tipe group investigation, hasil belajar siswa, dan pembelajaran IPS di SD

Pendahuluan
Pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan manusia, karena melalui pendidikan dapat menciptakan manusia yang berpotensi kreatip dan memiliki ide cemerlang sebagai bekal untuk memperoleh masa depan yang lebih baik.
Pendidikan di Indonesia mengalami permasalahan yang kompleks. Hal ini terjadi kerena tuntutan masyarakat terhadap kualitas output pendidikan semakin meningkat serta dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terus berjalan. Sumber daya manusia yang ada tidak lepas dari kualitas pendidian itu sendiri. Sehingga masalah ini dapat diatasi dengan mempertinggi kualitas pendidikan, sebab salah satu fuungsi utama pendidikan adalah mengembangkan potensi manusia sebagai siswa secara utuh dan optimal sebgai strategi yang sistematis dan terarah.
Salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan mengembangkan berbagai pendekatan pembelajaran. Sagala (2012:179) menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran (approach to learning) termasuk bagian dari factor yang menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional. Pada prinsipnya, pendekatan pembelajaran diimplementasikan guru untuk menelaskan materi pembelajaran dari bagian-bagian yang satu dengan bagian lainnya dengan berorientasi pada pengalaman-pengalaman yang dimiliki siswauntuk mempelajari konsep dan teori baru dalam suatu bidang ilmu. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan masalah sosial. Melalui pembelajaran IPS, siswa diarahkan untuk menjadi warga yang demokratis, bertanggungjawab, dan menjadi warga dunia yang cinta damai.
Untuk menumbuhkan sukap aktif, kreatif, dan inovatif dari siswa tidak lah mudah. Fakta yang terjadi adalah guru dianggap sebagai sumber belajar yang paling benar. Proses pembelajaran yang terjadi adalah memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah guru. Akibatnya, proses belajar mengajar cenderung membosankan dan menjadikan siswa malas belajar. Sikap anak didik yang pasif tersebut ternyata tidak hanaya terjadi pada mata pelajaran tertentu saja tetapi pada hampir semua mata pelajaran termasuk IPS. Berdasarkan obesrvasi dilapangan yaitu di SD Karya Mandiri Kelas IV terdapat beberapa masalah yang muncul, antara lain: 1) Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran masih belum nampak, 2) Para siswa jarang mengajukan pertanyaan , walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang belum jelas, atau kurang paham, 3) para siswa dalam mengemukakan pendapat masih kurang Nampak hal ini mengambarkan efektivitas belajar mengajar dalam kelas masih rendah dalam pengajaran IPS diharapkan siswa benar-benar aktif. Untuk mengatasi masalah tersebut maka perlu dicarika formula pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran IPS. Peneliti mencoba menerapkan model cooperative learning tipe group investigation, model cooperative learning tipe group investigation ini merupakan strategi pengajaran yang berhasil didalam mebentuk kelompok kecil yang masing-masing kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda sehingga mereka bias bekerja sama dan saling membantu sesame lainnya. Masing-masing anggota kelompoknya mempunyai tanggungjawab tidak hanya tentang apa yang diajarkan oleh guru tetapi juga membantu teman-teman sekelompoknya dalam belajar, sehingga bias menciptakan suasana keberhasilan. Pendekatan model cooperative learning tipe group investigation akan mengiring siswa dalam memiliki motivasi yang tinggi. Dengan tingginya motivasi yang dimiliki siswa diharapkan hasil belajar yang dicapai oleh siswapun meningkat.
Oleh karena itu penulis akan mengadakan penelitian dengan judul “Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Group Investigation Dalam Pembelajaran Ips Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Di Sekolah Dasar”


Kajian Teoritik
Pengertiang model cooperative learning tipe group investigation
Model  Cooperative Learning
“Cooperative learning adalah “Model pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang lebih silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup didalam masyarakat nyata”        Abdurahman dan Bintoro, (2000).
Falsafah yang mendasari model cooperative learning dalam pendidikan adalah “falsafah homo homini socios. Berlawanan dengan teori Darwin, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. “Tanpa kerja sama atau kooperatif, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi, atau sekolah”                   (Lee, 1999: 28).
            Dalam konteks di atas, Johnson dan Smith (1991) mengatakan bahwa “tidak semua kerja kelompok bisa dikatakan cooperative learning. Untuk mencapai hasil yang optimal, lima unsur model cooperative learning yang harus diaplikasikan , yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggungjawab perseorangan, (3)tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, dan (5) evaluasi proses kelompok.”
Selanjutnya, Anam (2003) mempertegas bahwa “essensi cooperative learning merupakan tanggungjawab individu sekaligus kelompok sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap kebergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok berjalan optimal.” Keadaan ini mendorong siswa dalam kelompoknya belajar, bekerja, dan bertanggungjawab dengan sungguh-sungguh sampai selesai tugas-tugas individu dan kelompok.
Beberapa alasan penggunaan belajar bekerjasama atau cooperative dalam pembelajaran menurut Slavin yang dikutip Mustaji (2003: 43) yaitu: (1)untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memperbaiki hubungan dalam satu grup, (2)mengatasi rintangan sekelas secara akademik, (3)meningkatkan harga diri, (4)menumbuhkan kesadaran bahwa siswa perlu belajar dengan berfikir, (5)memecahkan masalah dan belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya, (6)mendorong terbentuknya struktur kognitif pada diri siswa dan menyumbangakan pengetahuan kepada angota-anggotanya dalam kelompoknya.
Pada bagian lain Slavin dalam Mustani (darmawati 2008:44) mengidentifikasi beberapa hasil penelitian tentang aplikasi cooperative learning dalam pembelajaran. Beberapa temuan penelitian menunjukan bahwa:
1.      Model pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan siswa secara signifikan;
2.      Siswa yang bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tujuan kelompok, mereka menunjukan kemurahan hati mengerjakan apapun yang diperlikan untuk keberhasilan kelompok.
3.      Siswa dalam kelas belajar bekerja sama atau cooperative merasakan bahwa teman-teman sekelas menginginkan mereka belajar bersama.
4.      Siswa dalam kelas belajar bekerjasama atau cooperative diuntungkan dalam peningkatan status sosial mereka dikelas.
Sementara itu, Arends (Darmawati 2008:20) mengemukakan belajar bekerja sama atau cooperative dapat saling menguntungkan antara siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi yang bekerjasam dalam tugas-tugas akademik. Siswa yang berkemampuan lebih tinggi dapat menjadi tutor bagi siswa yang berkemampuan rendah. Dalam proses ini, siswa berkemampuan lebih tinggi secara akademik mendapat keuntungan karena memberi bantuan sebagai tutor pada topik tertentu memerlukan pemikiran lebih mendalam.
Lie   (2000:9) berpendapat bahwa “cooperative learning bertujuan untuk menghasilkan manusia yang bisa berdamai dan bekerja sama dengan sesamanya. Selain itu, suasana yang positif timbul dari metode cooperative learning bisa memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencintai pekerjaan dan sekolah. Dalam kegiatan-kegiatan yang menyenangkan ini, siswa merasa lebih terdorong untuk belajar dan berfikir”. Dapat disimpulkan bahwa esensi dari cooperative learning terletak pada tanggungjawab individu, sekaligus kelompok, sehingga dalam diri setiap siswa tumbuh dan berkembang sikap-sikap saling ketergantungan (independent) secara positif. Dengan demikian menjadikan belajar melalui kerjasama dalam kelompok akan berjalan seoptimal mungkin, kondisi ini dapat mendorong siswa untuk belajar, bekerja, dan bertanggungjawab sampai tujuan dapat terwujudkan.
Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif
Tujuan model pembelajaran kooperatif menurut Widiyantini` (Darmawati 2008:4) adalah “hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya serta pengembangan keterampilan sosial”. Johnson & Johnson dalam Trianto, (Darmawati 2008:57) menyatakan bahwa “ tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Louisell dan Deescamps dalam Trianti, (Darmawati 2008:57) juga menambahkan, karena siswa bekerja dalam suatu tim, maka dengan sendirinya dapat memperbaiki hubungan diantara para siswa dari latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan-keterampilan proses dan pemecahan masalah. Jadi inti dari tujuan pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dan memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa lainnya.
Prinsip Dasar Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Nur dalam Widiyantini, (Darmawati 2008:4), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut : a. Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya dan berfikir bahwa semua anggota kelompok memiliki tujuan yang sama. b. Dalam kelompok terdapat pembagian tugas secara merata dan dilakukan evaluasi setelahnya. c. Saling membagi kepemimpinan antar anggota kelompok untuk belajar bersama selama pembelajaran. d. Setiap nggota kelompok bertanggung jawab atas semua pekerjaan kelompok.
Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif menurut Nur (dalam Widiyantini, 2006:4) sebagai berikut : a. Siswa dalam kelomopok bekerjasama menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. b. Kelompok dibentuk secara heterogen. c. Penghargaan lebih diberikan kepada kelompok bukan kepada individu.
Pada model pembelajaran kooperatif memang ditonjolkan pada diskusi dan kerjasama dalam kelompok. Kelompok dibentuk secara heterogen sehingga siswa dapat berkomunikasi, saling berbagi ilmu, saling menyampaikan pendapat, dan saling menghargai pendapat teman sekolompoknya.
Berdasarkan ciri belajar kooperatif di atas bahwa dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya kemungkinan untuk menciptkan kondisi yang mengarah pada akibat pencapaian positif melalui kerja sama antar siswa dengan metode-metode pengajaran langsung siswa terstruktur (khususnya berpasangan) atau dengan mengajarkan mereka strategi-strategi pemahaman bacaan.
Adanya kemungkinan bahwa strategi pembelajaran efektif yang dapat diajarkan langsung kepada kelompok kooperatif sangat sesuai  dengan kerangka teoritis menurut Slavin (2009: 93) yang digambarkan dalam gambar 2.3 berikut :
Pengertian Group Investigation
Model Group Investigation seringkali disebut sebagai metode pembelajaran kooperatif yang paling kompleks. Hal ini disebabkan oleh metode ini memadukan beberapa landasan pemikiran, yaitu berdasarkan pendangan konstruktivistik, democratic teaching, dan kelompok belajar kooperatif. Berdasarkan pandangan konstruktivistik, proses pembelajaran dengan model group investigation memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan sampai cara mempelajari suatu  topik melalui investigasi. “Democratic teaching adalah proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menjunjung keadilan, menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keberagaman peserta didik” Budimansyah, (2007).
            Group investigation adalah kelompok kecil untuk menuntun dan mendorong siswa dalam keterlibatan belajar. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah sumbangan ide dari tiap anggota serta pembelajaran kelompok yang notabene lebih mengasah kemampuan intelektual siswa dibandingkan belajar secara individual. Aggen & Kauchak (maimunah, 2005) mengemukakan “group investigation adalah strategi belajar kooperatif yang menempatkan siswa kedalam kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik”. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode group investigation mempunyai fokus utama untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik atau objek khusus.
Tujuan Model Pembelajaran Group Investigation
Metode group investigation paling sedikit memiliki tiga tujuan yang saling terkait:
a.       Group investigasi membantu siswa untuk melakukan investigasi terhadap suatu  topik secara sistematis dan analitik. Hal ini mempunyai implikisi yang positif terhadap pengembanagan keterampilan penemuan dan membantu mencapai tujuan.
b.      Pemahaman secara mendalam terhadap suatu topik yang dilakukan melaui investigasi.
c.       Group investigasi melatih siswa untuk bekerja secara kooperatif dalam memecahkan suatu masalah. Dengan adanya kegiatan tersebut, siswa dibekali keterampilan hidup (life skill) yang berharga dalam kehidupan bermasyarakat. Jadi guru menerapkan model pembelajaran Group Investigation dapat mencapai tiga hal, yaitu dapat belajar dengan penemuan, belajar isi dan belajar untuk bekerja secara kooperatif.

Tahapan Kegiatan Pendekatan Group Investigation (kelompok investigasi)
Tahapan-tahapan kegiatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan group investigation seperti yang dijelaskan oleh Slavin (2009: 220-226) adalah sebagai berikut:
a.    Mengidentifikasi topic dan mengatur murid kedalam kelompok
Tahap ini secara khusus ditunjukan untuk masalah pengaturan. Guru mempresentasikan serangkaian masalah atau isu dan para siswa mengidentifikasikan dan memilih berbagai subtopic untuk dipelajari, berdasarkan pada ketertarikan dan latar belakang mereka.
b.    Merencanakan investigasi didalam kelompok
Setelah mengikuti kelompok-kelompok mereka masing-masing, para siswa mengalihkan perhatian mereka kepada subtopik yang mereka pilih. Pada tahap ini anggota kelompok menentukan aspek dari subtopik yang masinmasing akan mereka investigasi. Sebagai akibatnya, setiap kelompok harus memformulasikan sebuah masalah yang dapat diteliti, memutuskan bagaimana melaksanakannya, dan menentukan sumber-sumber mana yang akan dibutuhkan untuk melakukan invstigasi tersebut.
c.    Melaksanakan Investigasi
Dalam tahap ini tiap kelompok melaksanakan rencana yang telah diformulasikan sebelumnya.
d.   Menyiapkan Laporan Akhir
Dalam tahap ini merupakan transisi dari tahap pengumpulan data dan klarifikasi ke tahap dimana kelompok-kelompok yang ada melaporkan hasil investigasi mereka kepada seluruh kelas.
e.    Mempersiapkan Laporan Akhir
Masing-masing kelompok mempersiapkan diri untuk mempersentasikan laporan akhir mereka kepada kelas. Pada tahap ini, mereka berkumpul kembali kepa posisi kelas sebagai suatu keseluruhan
f.     Evaluasi Pencapaian
Dalam group investigation para guru harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi siswa mengenai subjek yang dipelajari bagaimana mereka menginvestigasikan aspek-aspek tertentu dari subjek, bagaiman mereka mengaplikasikan pengetahuan mereka terhadap solusi dari masalah-masalah baru, bagaimana mereka menggunakan kesimpulan dari apa yang mereka pelajari dalam mendiskusikan pertanyaan yang membutuhkan analisis dan penilaian, dan bagaimana mereka sampai pada kesimpulan dari serangkaian data. 
Metode Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan di SDN Karya Mandiri Kecamatan Tanjungsian Kabupaten Subang ini bersifat perbaikan dalam pembalajaran. Perbaikan pembelajaran dimaksud  adalah perbaikan pembelajaran IPS. Karena besifat perbaikan, tentu saja pelaksanaan pembelajarannya tidak hanya cukup satu kali saja melainkan diperlukan berulang-ulang dari siklus yang satu ke siklus yang lainnya.
            Secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu (1)perencanaan, (2)pelaksanaan, (3)pengamatan, dan (4) refleksi. Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut:










Oval: Permasalahan





Perencanaan
Tindakan I

 

Pelaksanaan
Tindakan I


 


 
 



 
                        Siklus I
Oval: Permasalahan baru hasil refleksi 





















 



            Siklus II







Pengamatan/
Pengumpulan data II

 

 





Gambar 3.1 : Alur Pelaksanaan Tindakan dalam PTK
(Arikunto, 2008:74)

Setiap langkah terdiri atas empat tahap (satu siklus), yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Dari siklus pertama dilanjutkan ke siklus kedua, ketiga dan seterusnya sehingga pembelajaran tersebut dapat optimal.
            Prosedur penelitian yang dilaksanakan dalam setiap siklus adalah sebagai berikut:
Tahap 1: menyusun rancangan tindakan (planning)
Pada siklus pertama, perencanaan tindakan (planning) dikembangkan berdasarkan hasil observasi awal. Dari masalah yang ada dan cara pemecahannya yang telah ditetapkan, dibuat perencanaan kegiatan belajar mengajarnya (KBM). Perencanaan ini persis dengan KBM yang dibuat oleh guru sehari-hari, termasuk penyiapan media, dan alat-alat pemantauan perkembangan pengajaran seperti lembar obervasi, tes, catatan harian dan lain-lain.
Pada tahap perencanaan ini, peneliti menyusun langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Mengadakan koordinasi dengan guru-guru dan kepala sekolah SDN Karya Mandiri tentang masalah yang akan dijadikan focus penelitian.
b.      Menyusun persiapan pembelajaran.
c.       Menyiapkan alat/media/model pembelajaran.
d.      Menentukan instrument yang akan digunakan dalam penelitian.
Tahap 2: Pelaksanaan Tindakan (acting)
Tahap ini adalah pelaksanaan KBM yang telah direncanakan. Bersamaan dengan ini dilakukan juga tahap observasi/pemantauan. Pada tahap ini kegiatan yang akan dilakukan peneliti sekaligus praktisi yaitu melaksanakan tindakan sesuai dengan langkah-langkah yang telah direncanakan. Pelaksanaan penelitian terintegrasi kedalam proses belajar mengajar dan peningkatan kualitas hasil pembelajaran yang diusahakan pemanfaatannya oleh peneliti dan peserta didik.
Tahap 3: Observasi/pemantauan (Observation)
            Dalam tahap observasi, dilakukan beberapa kegiatan seperti pengumpulan data-data yang diperlukan. Untuk mendapat data ini, diperlukan instrument dan prosedur pengumpulan data. Dalam tahap ini juga dilakukan analisis terhadap data, dan interpretasinya. Tahap  ini berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan tindakan (action) dan pada akhir tindakan. Data yang diambil selama pelaksanaan tindakan misalnya observasi prilaku siswa. Pada akhir tindakan dapat dilakukan tes maupun wawancara.
            Pada tahap observasi ini, penelitian secara lengsung dalam pembelajaran dengan menggunakan pedoman observasi (instrument penelitian) yang telah disiapkan sebelumnya, menghimpun data dan mengumpulkan bahan pertimbangan yang telah dilakukan untuk menyusun rencana tindakan selanjutnya sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Tahap 5: Refleksi (Reflection) Menurut Zuber-Skerrit (Muhadi, 2011: 70),
Tahap ini terdiri atas refleksi kritis dan refleksi diri. Refleksi kritis adalah pemahaman secara mendalam atas temuan siklus tersebut, dan refleksi diri adalah mengkaji kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama siklus berlangsung. Dengan demikian, tahap ini berisi kegiataan pemaknaan hasil analisis, pembahasan, penyimpulan, dan identifikasi tindak lanjut. Hasil identifikasi tindak lanjut selanjutnya menjadi dasar dalam menyusun tahap perencanaan (planning) siklus berikutnya.
Pembahasan
Berdasarkan hasil belajar siswa kelas IV SD Karya Mandiri sebelum menerapakan model cooperative learning tipe group investigation dalam proses pembelajaran kurang memuaskan. Hal ini dapat terlihat dari kemampuan rata-rata kelas yang mencapai 54,52. Jumlah siswa masih dibawah KKM sebanyak 28 orang.
Dalam penelitian yang dilaksakan dibatasi hanya dalam tiga siklus karena perolehan nilai pada siklus kedua masih belum memuaskan.
berdasarkan hasol observasi yang dilaksanakan pada kondisi awal pembelajaran diperoleh data hasil belajar masih kurang memuaskan dengan nilai rata-rata 56,42 dari 28 orang siswa hal tersebut menjadi bahan refleksi guru untuk memaksimalkan hasil belajar siswa. Gambaran ini menunjukan bahwa kegiatan pembelajaran IPS tidak member pengalaman langsung terhadap siswa akan materi IPS khususny pokok bahasan koperasi. Tindakan awal yang dilakukan peneliti untuk meningkatakan mutu pembalajaran IPS dikelas V SD Karya Mandiri adalah dengan cara melakukan evaluasi terhadap aktivitas siswa daalm pembelajaran. Berdasarkan gambaran pada kondisi awal pembelajaran kegiatan pembelajaran lebih didominasi oleh guru sehingga pada proses pembelajaran berlangsung kurang terjalin interaksi yang komunikatif antara guru dan siswanya. Peneliti mendapat masukan dari teman sejawat supaya siswa dapat terlibat lebih aktif lagi pada saat proses pembelajaran. setelah melakukan diskusi dengan teman sejawat, peneliti mengajukan untuk menerapkan model cooperative learning tipe group investigation, dalam melaksanakan proses pembelajaran sebagai upaya menyelesaikan masalah. Proses pembelajaran yang diharapkan dengan menerapkan model cooperative learning tipe group investigation adalah usaha pembelajaran yang berusaha meningkatkan keterlibatan siswa dan memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga pembelajaran lebih bermanfaat. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas peningkatan aktivitas dalam proses pembelajaran dan hasil belajar IPA



 













Grafik Presentase Perolehan Nilai

Dari analisis data, sebelum menggunakan pendekatan model cooperative learning tipe group investigation dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD Karya Mandiri nilai rata-rata adalah 56,42. Setalah mengunakan model cooperative learning tipe group investigation  yaitu: pada tindakan pertama nilai rata-rata menjadi 62,14 pada tindakan kedua nilai rata-ratanya 73,21 dan pada tindakan ketiga nilai rata-ratanya 80,35 untuk mendapatkan gambaran lebih jelas peningkatan hasil belajar siswa sebelum tindakan, tindakan pertama, tindakan kedua dan tindakan ketiga dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Grafik 4.7 : Grafik Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa


Keseimpulan
            Setelah melakukan penelitian pada proses pembelajaran IPS dengan menggunakan penerapan model cooperative learning tipe group investigation di Kelas IV SD Karya Mandiri dilaksanakan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Aktivitas siswa pada saat menerapkan  model cooperative learning tipe group investigation semakin aktif terutama yang melibatkan intelektual, emosional dan sosial ini ditunjukan dengan adanya kegiatan belajar dalam kelompok yaitu untuk menumbuhkan kemampuan berfikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya.
2.      Hasil pembelajaran dengan menggunakan penerapan model cooperative learning tipe group investigation mengalami perbaikan yang signifikan. Sebelum menggunakan penerapan model cooperative learning tipe group investigation nilai rata-rata sebelum menggunakan pendekatan model cooperative learning tipe group investigation dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD Karya Mandiri nilai rata-rata adalah 56,42. Setalah mengunakan model cooperative learning tipe group investigation  yaitu: pada tindakan pertama nilai rata-rata menjadi 62,14 pada tindakan kedua nilai rata-ratanya 73,21 dan pada tindakan ketiga nilai rata-ratanya 80,35.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Arikunto, Suharsimi. (2012). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi aksara
Aqib, Zaenal. (2009). Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SD, SLB, TK.    Bandung: CV. Yrama Widia
Bahri, Syaiful. (2010). Strategi belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta
E. Slavin, Robert. (2008). Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Penerbit Nusa Media
Lie, Anita. (2002). Cooperative Learning Mempraktekan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Grasindo
Khoiru, Iif. (2011). Metode Pembelajaran IPS Terpadu “Analisis Kritis Tentang Metode, Strategi, Evaluasi, dan Media Pembelajaran Bidang Studi Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi, Antropologi, dan Isu Pembelajaran IPS terpadu”. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya
Muhadi. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Shira Media
Rakhmat, Cece. (2006). Psikologi Pendidikan. Bandung: UPI PRESS
Suprijono, Agus. (2009). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Sadulloh, Uyoh. (2011). PEDAGOGIK (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfabeta
Suhaedah. (2012). Sosiologi Antropologi Pendidikan. Subang: Royyan Press.
Wahyudin, Uyu. (2006). Evaluasi Pembelajaran SD. Bandung: UPI PRESS